Kampung Wisata Baduy

Suku Baduy Sep 08, 2020

Halo travellers, suasana Covid-19 pasti jiwa traveling kalian meronta-ronta kan?. Sabar ya kawan, mari kita berdoa semoga pandemi ini segera berakhir dan kita diberikan kesehatan selalu. Nah kalau pandemi sudah benar-benar pulih kita kembali lagi berpetualang. Untuk saat ini agar kalian tidak jenuh, yuk baca cerita traveling ku ya :)

Akhir bulan September 2019 lalu, saya bersama 7 kawan lainnya menjelajah provinsi paling barat di Pulau Jawa, bukan lain yaitu Banten. Banten memang tidak se-terkenal provinsi lain di Pulau Jawa, namun Banten memiliki surga-surga tersembunyi yang layak menjadi tujuan wisata. Tujuan wisata saya kali ini adalah Kampung Wisata Baduy. Bagi sebagian besar orang, banyak kabar angin atau gosip miring terkait Baduy, salah satunya perilaku masyarakat yang menutup diri dari dunia globalisasi. Eits..., jangan langsung menerima begitu saja, kalian akan berpendapat berbeda ketika sudah berkunjung langsung.

Kampung Baduy merupakan kawasan wisata yang terletak di Kabupaten Lebak, Banten. Dari Jakarta menuju Baduy ditempuh kurang lebih 3 jam. Saat ini akses menuju Baduy cukup mudah. Mengambil titik kumpul di Stasiun Tanah Abang, kami naik KRL dengan rute Tanah Abang-Rangkasbitung. KRL ini biasanya berangkat 2 jam sekali, nah buat kalian yang gak mau ketinggalan wajib datang tepat waktu di stasiun. Perjalanan menuju Rangkasbitung kami tempuh kurang lebih 1,5 jam dengan biaya perjalanan ramah kantong, hanya 8000 rupiah. Namun perjalanan kami belum berhenti disini, dari Stasiun Rangkasbitung kami charter angkot tujuan Desa Ciboleger (titik awal pintu masuk Baduy). Sepanjang perjalanan menuju Ciboleger kalian akan disuguhi suasana pedesaan yang kental, mulai hari kebun ladang di kanan kiri, perkampungan, hingga kawasan hutan. Percayalah naik angkot ini seru banget, ditemani semilir angin kalian akan menuju kawasan yang sulit ditemukan di peta he..he.

Perjalanan 1,5 jam, membuat kami tiba di Desa Ciboleger, titik awal menuju kawasan Baduy. Tujuan kami saat ini adalah Baduy Dalam dan bermalam disana. Saat itu waktu menunjukkan pukul 12.00, kami disambut oleh guide yang merupakan orang asli Suku Baduy Dalam. Oh iya, kami juga mengajak travel tour dari Jakarta, maklum tidak tahu medan tempur ha..ha..ha. Berakhirnya doa yang kami ucapkan tanda siap untuk memulai perjalanan tracking. Menuju Baduy Dalam memakan waktu 4-6 jam mendaki naik turun bukit. Jangan berpikir jauhnya dahulu ya kawan, kalian tidak akan menyesal. Semua akan terbayar ketika kalian sanggup tiba di Baduy Dalam. Sepanjang perjalanan  di kiri kanan akan kalian temukan kerajinan-kerajinan tenun khas Baduy. Perlu diketahui masyarakat Baduy hidup secara berkelompok (area kampung), jarak antar kampungnya pun jauh, yang dapat disimpulkan setiap kampung pasti dekat dengan aliran sungai.

Menuju Baduy Dalam kami harus melewati kurang lebih 9 kelompok dusun Baduy Luar. Bercerita tentang Baduy terdapat perbedaan mencolok antara Baduy Dalam dengan Baduy Luar. Masyarakat Baduy Dalam memiliki peraturan ketat sebagai berikut:

  • Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki
  • Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi
  • Pintu rumah harus menghadap ke utara dan selatan (kecuali rumah sang Pu'un atau ketua adat)
  • Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi)
  • Menggunakan kain berwarna hitam atau putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.

Sedangkan Baduy luar adalah masyarakat yang tidak mampu mengikuti peraturan adat Baduy Dalam salah satunya yaitu menikah dengan anggota Baduy Luar. Namun ada peran penting dari Baduy Luar, yaitu sebagai kawasan wisata penyaring menuju Baduy Dalam. Baduy Luar juga berfungsi melindungi adat istiadat Baduy Dalam.

Balik ke cerita perjalanan kami ya kawan he..he. Setelah menempuh kurang lebih 4 jam perjalanan kami tiba di perbatasan Baduy Luar dengan Baduy Dalam. Perbatasannya berupa sungai, dimana kami harus menyebrangi jembatan bambu yang ada di atasnya. Sebelum kami menuju Baduy Dalam, bersempatlah kami beristirahat sebentar dan mencuci muka di kawasan sungai Baduy yang benar-benar jernih. Pemandangan hutan sejauh mata memandang membuat pikiran kami lebih refresh. Oh ya, ada satu peraturan yang harus wisatawan ikuti ketika masuk ke kawasan Baduy Dalam, yaitu semua perangkat elektronik harus dimatikan. Alhasil kami mematikan ponsel dan juga segala jenis kamera yang tim kami bawa. Ini penampakan foto sebelum menuju Baduy Dalam (bukan endorse produk ya kawan ha..ha...ha),

Dari perbatasan menuju salah satu dusun di Baduy Dalam memakan waktu 1 jam perjalanan, dengan pendakian yang memerlukan tenaga ekstra karena jalan stapak yang menanjak tanpa pepohonan di kanan-kirinya. Akhirnya kami tiba di Baduy Dalam menjelang magrib. Suasana dusunnya sangatlah hening, masyarakatnya bisa dikatakan cukup ramah karena mereka masih bisa diajak bertegus sapa. Warung untuk belanja makanan di dusun ini hanya ada satu di pintu masuk dusun. Makanan yang dijual dapat dikatakan cukup modern seperti snack ringan, air mineral, dan pop mie (hal ini mungkin karena adanya wisatawan).

Di Baduy Dalam kami menginap di rumah local guide kami. Rumah yang unik dan sangat sederhana, dengan sebuah dapur lengkap dengan perapian di pojok ruangan. Rumah suku Baduy tidaklah seperti rumah-rumah di Desa ataupun di Kota. Rumahnya beratapkan ilalang dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan pondasi rumah yang terbuat dari bambu-bambu petung. Pasti kawan terbayang bagaimana dinginnya suasana malam di Baduy Dalam. Ada lagi satu peraturan yang wajib kawan ikuti. Di Baduy Dalam tidak ada kamar mandi maupun toilet, kami bisa mandi di sungai tapi tanpa sabun maupun pasta gigi. Haram hukumnya bagi masyarakat Baduy Dalam untuk menggunakan bahan-bahan kimia yang dapat mencemari sumber air mereka, namun yang disayangkan perilaku buang air besar masyarakat masih open defecation (buang air besar langsung di aliran sungai). Tempat mandi laki-laki dan perempuan terpisah, saat itu kami mandi ditengah gelap gulitanya malam, beratapkan pohon bambu kami membasuh tubuh dengan air kubangan di sungai. Suasana sangat sepi dan hening, hanya terdengar percakapan orang yang sayup-sayup di tengah gelap malam. Di Baduy dalam juga tidak terdapat aliran listrik jadi hanya menggunakan penerangan dari perapian atau nyala obor yang ada di depan rumah masing-masing masyarakat. Kami juga tidak boleh sembarangan menuju rumah Pu'un (tertua di kawasan dusun), terdapat batas silang yang menandai area tersebut. Banyak cerita yang terekam di dalam memori saat berada di Baduy Dalam, namun tidak bisa terdokumentasikan secara nyata. Ini adalah contoh rumah-rumah masyarakat di Baduy,

Bermalam di Baduy Dalam mungkin bukan pilihan sebagian besar orang, namun bagi kami yang memiliki jiwa petualang, bermalam di Baduy Dalam cukup menantang. Mulai dari merasakan dinginnya malam, makan  malam dengan menu yang sangat sederhana, dimana sayur pakis yang merupakan menu favorite saya malam itu, serta keinginan untuk buang air kecil dan besar di malam hari. Sungguh pengalaman yang tidak pernah terlupakan dari ingatan. Tak lupa juga cerita-cerita mistis dari guide lokal seputar Baduy yang menemani kami bermalam.

Keesokan paginya pukul 08.00 kami harus meninggalkan dusun Baduy Dalam. Tujuan kami selanjutnya adalah sebuah danau yang berada di Baduy Luar. Pulangnya kami melewati jalan yang berbeda, katanya sih lebih dekat namun bagi saya itu sama saja, malah jalanannya semakin tega membakar lemak-lemak di dalam tubuh saya. Tanah yang gersang, jalanan yang naik turun bukit, hingga rasa haus yang tak tertahankan. Kami juga sempat meminta air minum kepada warga karena tidak ada satupun penjual air minum yang kami temukan selama perjalanan pulang. Setelah 3 jam kami tertatih-tatih di perjalanan, akhirnya kami melihat genangan air yang cukup luas, ya apalagi kalau bukan danau yang kami tuju. Suasana di sekitar danau sangat asri, hijau dengan air yang segar. Tentunya kami tak lupa mengabadikan suasana selama berada di kawasan ini. Sekedar informasi ya kawan, barang elektronik kami sudah bisa dinyalakan disini :)

Selepas kami menyejukan mata di danau, saatnya balik ke habitat masing-masing. Menempuh jarak kurang lebih 1 jam lagi, kami tiba kembali di titik awal keberangkatan yaitu Desa Ciboleger. Perut lapar dan rasa haus kami terbalaskan dengan menikmati makanan yang ada di sekitaran Desa Ciboleger. Oh ya kawan, jangan lupa kalau ke Baduy beli kain khasnya ya, minimal kain sejenis syal. Selain membantu perekonomian warga sekitar, kita juga bisa mempunyai kenang-kenangan yang mungkin tidak akan kita dapatkan dimanapun. Kainnya bisa kalian simpan, sebagai cerita nantinya ke generasi penerus kalian.

Pukul 13.00 kami balik menuju stasiun Rangkasbitung, kemudian naik KRL kembali ke stasiun Tanah Abang. Singkat kata dan singkat cerita kami berpisah di stasiun Tanah Abang, yah jadi sedih kawan, baru sehari udah main pisah aja. Eitss... jangan bosan dulu ya kawan, masih banyak cerita tentang perjalanan-perjalanan seru kami. Nantikan terus ceritanya, kami muda, kami siap menjelajahi Indonesia. Salam travellers :)

Oh iya, ini ada pemeran-pemeran dalam petualangan di kampung Wisata Baduy yang membuat perjalanan penuh unsur intrik dan drama he..he..he

Tags

Made Adhyatma

Always Keep Smile, Than You Show What You Feel :)

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.